70 Tahun Dalam Keasingan

“Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk
dilupakan.”

Begitulah kiranya yang sempat dituliskan Soe Hok Gie dalam
catatan hariannya. Sungguhlah dapat dibenarkan, bahwa perjuangan tidak untuk
dipentaskan dalam ajang apa pun. Tapi apakah menjadi mungkin, manusia bisa
tidak mementaskan apa yang telah, sedang, atau yang akan diperjuangkannya? Sementara
eksistensi sendiri adalah takdir semua manusia ketika diciptakan.

Tiada hal yang absolut pasti dan semuanya masih memiliki
kesempatan menjadi mungkin, termasuk mencari manusia yang hampir atau sama
sekali tiada memikirkan perkara eksistensinya. Seorang sejarawan Belanda, Harry
Albert Poeze, pada sekitar tahun 2007 menelusuri dan lalu menemukan sebuah
jejak makam tanpa nisan, hanya bertanda sebongkah batu berukuran selangkah
kaki. Bongkahan batu itu diyakininya sebagai tampat tidur terakhir seseorang bernama
Sutan Ibrahim. Menurut penelitiannya yang sudah lebih dari 40 tahun itu,
sebelum dieksekusi oleh aparat bersenjata pada 21 Februari 1949, Sutan Ibrahim
terakhir kali diketahui melakukan aktivitas di sekitar kaki Gunung Wilis
selepas bergerilya beberapa waktu sebelumnya bersama Jenderal Soedirman.

Ya, hari ini bertepatan dengan 70 tahun sudah, seorang
Sutan Ibrahim tidur terasing setelah sepanjang hidupnya, hidup mengasing dan
diasingkan. Tapi siapa gerangan Sutan Ibrahim? Apakah namanya pernah kita
dengar selama duduk di bangku sekolah? Nama Sutan Ibrahim memang tidak pernah
ada dan dikenalkan di bangku sekolah, karena itu adalah nama lahir, bukan nama
tenarnya. Mari kita berkenalan dengan nama tenarnya, dia adalah Tan Malaka. Sudahkah
ada yang mengenal Sutan Ibrahim dari nama tenarnya? Mungkin hanya sebagian
kecil dari masyarakat yang tahu tentangnya. Sutan Ibrahim atau Tan Malaka,
lahir di Suliki, seorang penganut agama yang sangat baik, memiliki gelar Datuk
yang lalu sengaja ia sembunyikan agar bisa bergaul dengan rakyat biasa. Ketika
menjadi pemuda, memiliki cara berpikir yang jauh melampaui orang-orang biasa,
memiliki pergerakan yang jauh melampaui orang-orang biasa.

Hasil buah pikir dari seorang Tan Malaka yang paling abadi
adalah “Republik Indonesia”. Ya, Tan Malaka adalah orang pertama yang memiliki
gagasan tertulis tentang Republik Indonesia. Tertuang dalam bukunya, Naar de Republiek indonesia alias Menuju Republik Indonesia. Ditulisnya
waktu itu di Filipina, selesai tahun 1925 ketika dalam pelarian di usia yang masih
27 tahun. Gagasan kebangsaan yang delapan tahun sudah ada terlebih dahulu sebelum
Soekarno menulis Indonesia Merdeka.

Selain Menuju Republik
Indonesia
, Tan Malaka juga menulis buku-buku yang memiliki pengaruh besar
bagi ranah kebangsaan republik ini. Sebut saja Gerpolek, Semangat Muda, Parlemen atau Soviet, Islam dalam Tinjauan
Madilog, Massa Aksi, Dari Penjara ke Penjara, Muslihat Politik
dan Rencana Ekonomi Berjuang. Dari semua
itu, tentu satu karya paling fenomenal darinya adalah Madilog. Bahkan Madilog
masuk dalam 100 buku paling berpengaruh terhadap gagasan bangsa Indonesia versi
majalah Tempo.

Entah sudah menjadi bagian dari dirinya atau bagaimana, mungkinkah
takdir atau sekadar hobi? Tan Malaka sangat identik sekali dengan pelarian,
penyamaran, pemburuan, dan hal-hal yang selalu dikaitkan dengan pemberontakan.
Singapura, Jepang, Belanda, Jerman, Cina, Filipina, entah berapa banyak negara
lagi yang pernah ia jadikan tempat untuk berlari.

Bolehlah dikatakan bahwa Tan Malaka adalah pemberontak
ulung, ke sana dan sini seperti agen rahasia. Tan Malaka memang pemberontak,
yang terus menggendong asa atas apa yang diinginkan atas pemberontakannya itu, hanya
satu; Indonesia Merdeka! Hampir sepanjang hidupnya, terutama sekali ketika
menginjak usia remaja, Tan Malaka tidak asing dengan kata pengasingan dan
diasingkan.

Kisah pilu pun mulai terasa, dimulai ketika Tan Malaka dieksekusi
dengan tangan terikat di belakang, lalu dilumpuhkan dengan timah panas dari aparat
bersenjata pada zaman itu, entah terkait persoalan apa tindakan itu dilakukan. Kisah
pilu itu pun berlanjut setelah Tan Malaka tiada. Meski sudah dinobatkan oleh Presiden
Soekarno sebagai Pahlawan Nasional pada 1963, tetapi dua tahun setelahnya, nama
Tan Malaka dihilangkan dari sejarah oleh Orde Baru. Namanya dicap sangat negatif,
seolah haram untuk diketahui, dan pekerjaan buruk Orde Baru itu pun berhasil
menghilangkan jejak dan berhasil mentabukan nama Tan Malaka dari pengetahuan
orang-orang Indonesia. Bahkan sampai saat ini, masih sedikit dari sebagian
kecil yang tahu tentang Tan Malaka.

Membaca buku karya-karyanya, akan dicurigai. Melakukan
diskusi, memutar film, mengadakan pentas untuk menghormatinya, dilarang.
Dituduh kiri, subversif, radikal, komunis, menggangu keamanan dan alibi-alibi
lain sejenisnya. Padahal Reformasi sudah 20 tahun lamanya terjadi, tetap saja
banyak yang masih terjebak dalam narasi dan dongeng kelabu Orde Baru. Tetapi
bagaimanapun, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi,
baunya tetap tercium juga dan hal itu akan berujung pada kesia-siaan.

Ya, tepat 70 tahun sudah, semenjak 21 Februari 1949 – 21
Februari 2019, Tan Malaka tidur abadi di tanah kecil pemakaman Desa
Selopanggung Kediri yang tenang, sepi, dan terasing. Pemakaman kecil desa yang
berukuran sekitar sepuluh meter persegi, kecil sekali. Di sekeliling pemakaman
terdapat terasering persawahan warga sekitar, dan dikelilingi oleh perbukitan
kaki gunung. Tidak seperti pusara Soekarno yang selalu ramai dikunjungi oleh
banyak peziarah, di situ  justru
sebaliknya, tenang, sepi, dan terasing, padahal Tan Malaka tidak kalah besar
perjuangannya. Atau mungkin jangan-jangan sebenarnya ia tidak terasing? Mungkin
pemakaman itu memang tempat yang diinginkannya, atau Tuhan sengaja memberikan
hadiah baginya untuk istirahat di tempat yang indah, dingin, sejuk, tenang, dan
sesepi Selopanggung? Entahlah.

Tan Malaka adalah pahlawan sejati, menjadi presiden pun
baginya sebenarnya bukan soal berarti, gelar raja saja sengaja ia tanggalkan
dengan sadar diri, perjuangan yang terus ia tempuh untuk bangsa ini baginya
jauh lebih berarti. Itu menjadi hal yang pasti. Begitulah, 70 tahun sudah Tan
Malaka tidur di pusaranya, terasing. Sedari awal, Tan Malaka dengan secara sadar
sudah memilih mengabdikan hidupnya untuk berjuang dan lalu mengundurkan diri
untuk dilupakan, tetapi, pantaskah kita melupakan?

“Mari mengenalnya,
mari mengenangnya, meski ia sengaja diasingkan atau memilih mengasingkan. Mari
sejenak memberi penghormatan dan doa untuknya, setidaknya dari hati
masing-masing kita.”

-Muhammad K.K.-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *