Melabuhkan Sastra Di Dermaga Kata-Kata

“Setelah dua purnama berlayar mengelilingi samudra bahasa, akhirnya kami
berlabuh jua ke sebuah Dermaga Kata-Kata, lalu sejenak bersandar di Gedung
Nasional Indonesia, merayakan sastra bersama
‘Syahbandar’
Seno Gumira Ajidarma, beserta awak kapal lainnya.

Pada hari Minggu, 24 Februari 2019, komunitas
Ruang Sastra Gresik bekerja sama dengan Yayasan Gang Sebelah dan beberapa
koalisinya akhirnya sukses mengadakan Festival Sastra Gresik yang pertama,
bertajuk: Dermaga Kata-Kata.

Ruang Sastra Gresik dengan penuh sukacita telah
merancang berbagai program dengan niat untuk menyemarakkan perayaan sastra yang
dihelatnya. Di antaranya adalah Bale
Aksara
yang berupa Kelas Menulis Prosa bersama Heti Palestina Yunani, seorang
penulis antologi puisi Kamus Kecil
tentang Cinta
, Rupa Puisi Perupa,
dan Perempuan di Ujung Senja dan Satu.
Kelas yang diikuti oleh peserta berjumlah kurang lebih seratus orang yang
berasal dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga khalayak umum tersebut diharapkan
agar dapat menghasilkan sebuah karya tulis prosa yang akan dijadikan sebuah
buku nantinya.

Program menarik selanjutnya adalah Ruang Tamu,
ruang berbincang antara tuan rumah (penyelenggara) dengan Seno Gumira Ajidarma.
Penulis, sastrawan, yang juga rektor salah satu kampus di Jakarta yang lahir di
Boston, Amerika Serikat pada 19 Juni 1958 yang sudah banyak menghasilkan karya.
Sebut saja, Sepotong Senja untuk Pacarku,
Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi dan Biola tak Berdawai. Di program Ruang
Tamu bersama Seno Gumira Ajidarma ini para penonton dan tuan rumah saling
berbincang interaktif tentang pokok bahasan utama: Sastra harus bicara? Sebuah perbincangan menarik mengenai sastra
masa kini dan perkembangannya nanti.

Program Ruang Tamu bersama Seno Gumira Ajidarma dalam rangkaian Festival Sastra Gresik

Pada sore hari, festival pun berlanjut ke program
Layar Sinema, berupa diskusi ringan dan pemutaran fillm tentang alih wahana
dari Gresik Movie yang berjudul Senja
untuk Alina,
film alih wahana dari cerpen karya Dini Ardhianty yang
disutradarai oleh Ananda Shandy. Selain itu, terdapat juga program Jaring Karya
yang berupa ruang baca dan lapak buku yang diisi oleh berbagai karya penulis
Gresik, dan Jangkarupa yang berisi media tampilan karya sastra dalam bentuk
karya rupa yang berlangsung sejak pagi dimulainya acara hingga malam hari
sampai selesainya festival.

Acara pamungkas Festival Sastra Gresik pun
terjadi pada malam hari, bernamakan Dermaga Sastra. Program dibuka dengan performing art dari Koencoret Studio
yang menampilkan pembacaan puisi sembari melukis di atas tripleks dan
dikelilingi pameran dengan seni instalasinya. Kemudian dilanjutkan dengan
pertunjukan dari Kotaseger, Teater Ndrinding, pembacaan puisi dari penyair
Gresik dan luar Gresik, Orasi Budaya oleh Dewi Musdalifah dan ditutup oleh
penampilan Onomastika, sebuah
kelompok musik yang membawakan lagu-lagu yang sebagian besar liriknya berasal
dari puisi-puisi karya Almarhum Lenon Machali.

Muhammad K.K., selaku ketua pelaksana Festival
Sastra Gresik berharap, sesudah terselenggaranya acara ini, dapat tercipta
ekosistem sastra yang seimbang di Kota Gresik.

“Di Gresik banyak sastrawan, tetapi terkesan bergerak sendiri-sendiri, maka
dari itu dengan adanya festival ini semoga dapat menjadi wadah dan perayaan
bersama dalam hal sastra, agar saling bersinergi dan juga sebagai wadah untuk berkarya
bersama,” pungkas Muhammad K.K.

-Danang Ari-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *