Sekelumit Aba-Aba Ketika Onomastika Pamit Tiba-Tiba

“Tuhan akan selalu berbaik hati, kepada setiap makhluk yang
mencari kasih sayang-Nya tiada henti. Melalui semesta, Tuhan telah mengirimkan
energi yang luar biasa, agar kami: berkarya jua berdaya. Kami akan bertanggung
jawab atas karya jua berinisiatif memberi suara pada ruang yang mulai
kehilangan irama.”

Pesan
di atas merupakan sepenggal kabar dari beberapa kabar lainnya yang telah
beredar di akun Instagram resmi
Onomastika, sebuah kelompok musik yang berasal dari Gresik. Lebih lanjut mereka
mengabarkan, “Saatnya telah tiba, tanpa ada terlebih dahulu aba-aba, dan
mungkin cenderung tiba-tiba, konser musik tunggal harus digelar–konon kurang
lebih dua dasawarsa, band atau kelompok musik asal Kota Gresik tak pernah mengadakannya
dalam upaya untuk memperkenalkan albumnya. Menjadi pertanda, tentu saja.”

Irfan
Akbar, Manajer Grup Musik Onomastika mengatakan, “Padahal idealnya sebuah band
tidak harus menunggu sebuah panggung untuk memperkenalkan albumnya, melainkan
harus berinisiatif menciptakan panggung itu,” ujarnya. Hal itu yang kemudian
mendorong Yayasan Gang Sebelah, selaku yayasan nonprofit berskala nasional yang
menaungi Grup Musik Onomastika untuk menginisiasi sebuah konser tunggal bertajuk
“Onomastika Pamit”.

“Onomastika Pamit” merupakan
tema yang diangkat dalam konser ini, dengan maksud bahwa Onomastika ingin pamit
kepada masyarakat Gresik khususnya. “Dalam Kamus Beşar Bahasa Indonesia, kata
pamit adalah permisi akan pergi (berangkat, pulang). Rencana tour ke luar kota atau pergi membuat
album baru adalah gagasan ‘Pamit’ itu sendiri.

Hal itu ditujukan untuk menjaring
penikmat musik yang lebih luas lagi dengan melalui pentas keliling yang akan
dilakukan setelah konser ini berlangsung. Konser ini akan direkam secara
langsung, dan akan dirilis dalam bentuk “Album
Live: Onomastika Pamit”. Konser ini
juga akan mengangkat konsep situasi pesisir Kota Gresik, karena lagu-lagu yang
dibawakan oleh Onomastika merupakan hasil alih wahana dari puisi. Karya Alm.
Lenon Machali, seorang sastrawan besar asal Gresik.

Dalam kegiatan ini, panitia berharap
konser tunggal sebuah band di Gresik akan menjadi tradisi. Tidak hanya
Onomatika, berlaku juga untuk band-band yang lain. Untuk mendukung langkah
tersebut, konser ini nantinya tidak hanya tentang penampil dan penonton, namun
akan berupaya membentuk ekosistem musik yang sehat dengan cara mengadakan
Record Store Day, mengkampanyekan karya musik sebagai aset kota, merangkul
kolaborator untuk tampil, mengembangkan literasi musik, mengumpulkan jaringan
dan pelaku semestanya,” tegas Shandy Anata, Ketua Yayasan Gang Sebelah.

Sebuah
mini album “Hujan Pertama” yang
berisi lagu-lagu seperti; Hujan Pertama, Sendiri, Hening, Kepada yang Lalu, Jam
Tenang, dan Perahu Sampanmu, telah dirilis pada pada tanggal 28 Oktober 2018.
Setelah melewati beberapa panggung, mini album Onomastika juga dirilis untuk digital music store seperti Spotify,
iTunes, Joox, Deezer, Amazon dsb.

Pada
konser ini Onomastika akan tampil membawakan total 10 lagu yang nantinya akan
dimasukkan dalam “Album Live: Onomastika Pamit”. Enam lagu yang
sudah ada dari album “Hujan Pertama”, dan sisanya dari lagu baru yang juga dari
proses alih wahana puisi ke musik, di antaranya; Lelaki Di Dermaga, Pasar Loak,
Keringat Hujan Tawar, dan Musim.

Konser tunggal ini, tentu akan menjadi kabar yang
menarik sekaligus menghemparkan bagi para musisi di Gresik. Entah itu pelaku lama
maupun baru, indie ataupun industri. Bagaimana tidak, jika benar paparan di
atas, tentu konser ini akan menghemparkan “kesunyian” yang ada, jika menyoal
ada atau tidaknya konser tunggal di Gresik dalam kurun waktu dua dasawarsa ini.

Onomastika
akan pamit, dan anggaplah ini kabar baik. Entah hendak ke mana, entah akan
bagaimana, nanti, lihat saja.

-Nizar Rosyidi-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *