Konser Onomastika Pamit: Usaha Menyelamatkan Kejenuhan Kota?

“Gedung yang dibangun pada awal
kemerdekaan ini, baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Irama dan nada,
seolah menjadi alarm yang membangunkannya.”

Lantunan
musik menggema di Gedung Nasional Indonesia, sejak Sabtu sore para pengguna
jalan yang melintas di Jalan Jaksa Agung dan Jalan Pahlawan Kabupaten Gresik, mengalihkan
perhatian berkendaranya ke sumber suara yang ada di dalam GNI. Para pengguna
jalan, ada yang hanya melirik. Melihat tulisan publikasi kegiatan di baliho dan
bahkan tidak sedikit yang bertanya-tanya, “Ada apa di GNI?”

Rasa
penasaran warga Kota Gresik akan geliat dan bunyi pengeras suara di GNI memang
bukan sesuatu yang aneh. Terutama bagi mereka yang sering lewat depan GNI, hampir
setengah dekade gedung ini tak ubahnya rumah berhantu yang kusam. Semenjak
adanya rencana Pemkab Gresik pada tahun 2014 untuk membongkar bangunan GNI yang
notabene, merupakan bangunan cagar budaya.

Semenjak
itulah gedung yang dulunya tak pernah absen sebagai tempat pertunjukan kesenian
ini, harus hibernasi dari narasi kesenian Gresik. Namun kondisi ini berubah 180
derajat pada hari Sabtu, (23/3/2019) kemarin. Gedung yang dibangun pada awal
kemerdekaan ini, baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Irama dan nada,
seolah menjadi alarm yang membangunkannya.

Suddenly
Concert: Onomastika Pamit
, begitulah tulisan di baliho yang
terpasang tepat di depan Gedung Nasional Indonesia,  yang menjadi perhatian dan pembeda dari hari–hari
biasanya di GNI. Sejak siang gedung ini banyak dikunjungi oleh muda-mudi dan
bahkan bertambah ramai sesaat setelah salat Magrib selesai ditunaikan. Terlihat
muka mereka penuh semangat, ingin segera memasuki gedung dan menyapa setiap
sudut ruangan yang sudah dihiasi oleh beberapa karya seni rupa. Entah, apa ini betul
sebuah konser? Jangan-jangan juga termasuk pameran seni rupa?

Lain
hal dengan mereka yang masih antre untuk membeli atau registrasi tiket masuk,
tak segan melihat relief perjalanan Grup Musik Onomastika atau sekadar
mengambil gambar dan potret diri melalui gawainya di pojok foto yang sudah
disediakan panitia. Tentu dengan tujuan untuk memenuhi akun Instragram-nya atau hanya untuk memperbarui
foto profil Tinder-nya.

Setelah
puas berpotret diri, tak jarang dari pengunjung juga mampir ke gerai-gerai yang
ada di depan pintu masuk ruangan, gerai-gerai ini menyediakan suvenir dari
Onomastika. Selain itu juga tersedia beberapa suvenir dan rilis fisik berupa
album lagu dari grup musik yang berasal dari Gresik, di antaranya D’sandya,
Jelly Seger, Salah Paham, Thorn The Beauty, Telaga Sunyi, dan lain-lain.

Jarum
jam sudah tampak menunjukkan pukul 19.30 WIB, ruang gedung pun mulai penuh
sesak pengunjung konser, dan beberapa awak panitia pun sudah bersiap pada
posisinya. Tak seperti konser musik pada umumnya, ruangan gedung disulap
sedemikian estetis. Di antaranya terdapat sebuah replika dua dimensi dari wujud
sebuah perahu sampan, di kiri panggung utama terdapat sebuah miniatur Bale Purwa, sedangkan di panggung utama
terdapat ornamen awan kumulonimbus.

Bagi
mereka yang sudah mengenal Onomastika, tentu akan memahami maksud dari
properti-properti tersebut. Namun, bagi mereka yang baru saja berkenalan dengan
grup musik yang bermarkas di Jalan Beton Raya ini tentu saja akan muncul
berbagai pertanyaan tentang properti dan ilustrasi yang terpajang tersebut.

Perhelatan
musik tunggal oleh grup musik dari Gresik yang telah dinanti-nanti sekian
purnama ini, telah dimulai. Diawali sambutan dengan singkat oleh Yayak IU,
selaku ketua pelaksana, pria yang juga menyandang status sebagai Duta Warung Kopi Gresik ini mengajak
kepada semua yang hadir untuk memberikan ruang bagi kota “Gresik” yang mulai
kehilangan iramanya.

Kemudian
dilanjut sambutan oleh Irfan Akbar selaku Manajer Onomastika, yang dalam
sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah
terlibat atas suksesnya konser ini. Sambutan berikutnya dan terakhir oleh Bu
Sri Wahyuni selaku Istri dari Almarhum Bapak Lenon Machali yang merupakan
pencipta puisi-puisi yang dialihwahanakan menjadi lagu oleh Onomastika. Dalam
sambutannya perempuan yang akrab dengan panggilan Bu uyun ini menyampaikan
ucapan selamat atas suksesnya konser tunggal ini dan menyampaikan sebuah  pesan “Tandai zaman dengan karya-karyamu”.

“Keberadaan teatrikal dalam sebuah
konser musik sebenarnya lazim, namun tak semua orang pernah mengalami
pengalaman seperti pada konser Onomastika Pamit ini.”

Ternyata,
para penonton tak langsung disuguhi lantunan musik dan syair dari lagu-lagu
Onomastika. Setelah sambutan-sambutan selesai, penonton diajak menikmati sebuah
teatrikal arak-arakan yang menceritakan tentang filosofi hidup masyarakat Jawa,
yaitu “Sedulur Papat Limo Pancer”, terminologi
ini tentu akrab di telinga generasi baby
boomer
Gresik, namun tentu asing bagi generasi milenial. Dalam cerita
teatrikal tersebut, diceritakan tentang perjalanan seorang yang selalu
dilindungi oleh keempat saudaranya dan dalam tradisi Jawa disebut sedulur papat (air ketuban, ari-ari,
darah, dan tali plasenta) dan lima pancer
(diri sendiri).

Kesan
pesisir sengaja dihadirkan dalam konser ini, properti-properti dan ilustrasi
yang sudah ada di setiap sudut ruang, sangat khas dengan laut, ikan, nelayan
dan perahu. Lagu pertama yang dibawakan pun memberi pesan kepada penonton bahwa
Onomastika, lahir dari rahim kota pesisir yang juga kota industri. Diawali dengan
lagu Lelaki di Dermaga, lagu yang juga merupakan puisi dari Almarhum Lenon
Machali ini menjadi satu dari keempat lagu baru dari Onomastika yang dibawakan
pada konser ini.

Lagu
kedua pada konser ini merupakan lagu dari album mini Onomastika yang berjudul,
Sendiri. Kali ini dalam penampilan lagu Sendiri, terdapat ilustrasi teatrikal
tunggal yang menggambarkan seorang nelayan laki-laki yang sedang pergi melaut
untuk menunaikan kewajibannya dengan ditemani seperangkat alat tangkap ikan. Selanjutnya
ada lagu baru yang juga akan menjadi bagian dari Album Live: Onomastika Pamit, album yang akan dirilis sesudah
konser ini–lagu yang berjudul Musim ini menjadi lagu penutup sebelum jeda
pertama jalannya konser Onomastika Pamit.

Dalam
sesi jeda, sembari personel Onomastika istirahat sejenak untuk membasahi
tenggorokan dan melemaskan jari-jarinya, penonton disuguhkan dengan sebuah video
tentang rekam jejak Onomastika. Selesai pemutaran video rekam jejak, suasana
ruangan menjadi semakin sendu ketika permainan gitar dari Bambang dan Fais,
betotan bas dari Adi, juga ditambah karakter vokal yang khas dari Khorid, Ida
dan Tyas yang penuh tenaga menjangkau nada-nada rendah hingga tinggi tanpa
kesulitan dengan cengkok yang indah.

Lagu
berjudul Hening, menjadi lagu keempat. Pada sesi ini terlihat salah satu
personel terbawa akan suasana lagu, sampai-sampai harus meneteskan air mata. Sedangkan
suasana ruangan semakin mengikuti lirik dan irama lagu, tak ayal para penonton pun
tiba-tiba menjadi “budak” keheningan. Suasana hening pun dengan cepat sirna
ketika di panggung dihadirkan sebuah drama yang dimainkan oleh dua pasang
muda-mudi yang memerankan tokoh Abi dan Hening, tokoh yang terdapat dalam webseries Hening, di mana Onomastika
yang mengisi soundtrack-nya. Dalam
penampilan drama tersebut, dihadirkan cerita roman khas generasi muda perkotaan
yang tak jauh dari kisah LDR, Bunga
dan Ulang Tahun.

Hal
menarik dari sesi ini adalah adanya adegan tari dansa, yang seolah-olah ingin
mengajak para penonton untuk ikut larut dalam suasana percintaan yang indah.
Namun sayangnya, adegan ini juga semakin memperpanjang barisan nestapa bagi
para kaum jomlo. Sebelum memasuki jeda kedua dan memasuki sesi terakhir,
terdapat lagu Onomastika yang berjudul, Kepada yang Lalu.

Sesi
ketiga ini dibuka dengan lagu yang berjudul, Hujan Keringat Tawar. Dalam lagu
ini, mulai terlihat permainan-permainan alat musik tambahan yang dimainkan oleh
Khorid. Begitu lagu selesai, lampu panggung dimatikan dan dengan begitu singkat,
siluet pun muncul. Lampu panggung dinyalakan dan sudah tampak di atas panggung
tiga orang musisi yang siap berkolaborasi dengan Onomastika, dengan alat musik mereka
masing-masing. Ketiganya adalah Adha dengan alat musik cajon, Diaz dengan alat musik biola, dan Alvian dengan alat musik
harmonika. Ketiganya merupakan musisi dari Gresik dan dengan keterlibatan
mereka dalam konser Onomastika Pamit,
semakin membawa warna dalam alunan musik Onomastika.

Penampilan
kolaborasi ini diawali dengan lagu Jam Tenang, dilanjut kemudian lagu Perahu
Sampanmu. Pada sesi lagu Perahu Sampanmu ini, awak panitia dengan dipandu
ketiga vokalis membagikan selembar kertas berisi lirik lagu Perahu Sampanmu,
setelah itu para personel Onomastika mengajak semua penonton untuk berdiri dan
bernyanyi bersama. Suasana semakin riuh dan penonton yang kebanyakan sudah
hafal lagu ini tanpa bantuan teks pada kertas semua ikut bersuara dalam satu
irama dan nada yang sama. Lagu berikutnya berjudul Pasar Loak, dalam lagu ini suara
vokal Khorid  lebih dominan dan khas,
kadang suaranya seperti Iwan Fals kadang seperti Armand Maulana, dua penyanyi
yang menjadi inspirasinya.

Sebelum
menutup konser pada malam itu, ketiga vokalis mengajak para penonton untuk
lebih mendekat ke panggung. Lagu Hujan Pertama dipilih sebagai lagu pamungkas
konser bertajuk, Onomastika Pamit
ini. Semakin menarik ketika semua kolaborator yang terlibat dalam ilustrasi dan
dramatisasi lagu, ikut berdiri di belakang dan menggunakan penutup hidung atau
lazim disebut masker. Seolah ingin memberi pesan pada khalayak penonton, jika
ada sebuah ancaman serius dari polusi udara yang ada di Kota Gresik. Benar saja,
dalam lirik lagu Hujan Pertama, sangat erat dengan narasi kota yang megalopolutan dan adanya harapan masyarakatnya
akan sebuah wilayah yang bebas dari deru polusi dan asap pabrik.

Setelah
lagu selesai, para awak panitia dan kolaborator naik ke atas panggung dan dengan
diwakili oleh Irfan Akbar selaku Manajer Onomastika, mengucapkan banyak terima
kasih dan meminta izin pamit untuk hal yang lebih baik. Sebagian penonton
keluar gedung dengan wajah riang seraya menyanyikan potongan lirik “Ku jawab
teka-teki langit”
, “Belum pernah kudengar hening”. 

 “Sekali lagi, segenap personel dan awak
panitia  konser ‘Onomastika Pamit’ berhasil
menghadirkan warna baru dalam sebuah konser musik. Sebuah dramatisasi musik,
berhasil dihadirkan. Perpaduan permainan lampu, sangat memukau. Ruang-ruang pertunjukan
pun, terhidupkan dengan karya seni rupa yang mengilustrasikan ragam ekosistem
pesisir. “

-Wildan Erhu-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *