Memperjelas Gedung Kesenian di Gresik

“Saya tahu bahwa infrastruktur budaya yang ada di daerah yang
saya lihat memang pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk kita bisa
berekspresi dengan baik. Taman-taman budaya yang saya lihat sudah ada di
beberapa kota/kabupaten tidak memberikan sebuah kontribusi yang kelihatan bagi
pembangunan budaya kita,” ungkap Presiden (Tempo, 23 Agustus 2016).

            Kutipan berita di atas, setidaknya dapat memberi gambaran
bagaimana kondisi infrastruktur atau sarana dan prasarana di sektor kebudayaan
beberapa tahun terakhir. Memang perlu dibutuhkan perhatian khusus, bagi
pemerintah baik yang ada di pusat dan juga di daerah. Untuk itu, tulisan ini
akan sedikit mengulas seberapa penting keberadaan gedung kesenian di sebuah
kabupaten atau kota untuk pemajuan sebuah kebudayaan daerah. Khususnya bagi
Kabupaten Gresik, yang dewasa ini belum menujukkan sebuah harapan akan
kepedulian pemerintah terhadap kejelasan gedung kesenian tersebut.

            Ketika mendengar sebuah celetukan “gedung kesenian di Gresik”,
tentu kita akan terbesit tentang suatu infrastruktur fisik yang diperuntukkan
untuk para pelaku seni atau pula untuk menunjang perkembangan kebudayaan daerah
pada umumnya. Perhatian terhadap gedung kesenian secara fisik bangunan hingga
akustik penunjang yang abai, akan mengakibatkan kecacatan pemanfaatan yang
tidak optimal sesuai dengan fungsinya. Sehingga, gedung kesenian sering
dianggap sebagai gedung serba guna. Maka yang kemudian terjadi adalah gedung
kesenian, tak ubahnya sebuah bangunan “komersil”.

Adanya
perancangan yang detail terhadap desain gedung kesenian, perlu keterlibatan
banyak pihak, salah satunya adalah komunitas-komunitas seni. Wacana adanya
gedung kesenian baru atau memanfaatkan kembali keberadaan gedung kesenian di
Gresik, tentu butuh dukungan dan keterlibatan semua pihak. Pemerintah dalam hal
ini Pemkab Gresik, sudah selayaknya mau dan harus mendengar usulan–usulan
pelbagai pihak, khususnya pelaku seni di Gresik.

Selama
ini ketika membicarakan gedung kesenian, maka yang muncul dalam pikiran kita
sebagai warga Gresik adalah Gedung Nasional Indonesia (GNI) dan Wahana Ekspresi
Pusponegoro (WEP). Tentu nama yang terakhir ini perlu dipertanyakan kembali,
apakah masih layak WEP disebut sebagai gedung kesenian? Sedangkan baik secara
desain bangunan atau pengelolaan, WEP lebih menjadi wahana atau gedung olahraga
saja. Maka nyaris, hanya GNI-lah yang bisa dikatakan representatif dari
keberadaan gedung kesenian di Gresik.

Keberadaan
GNI dewasa ini, tentu kita semua sepakat jauh dari kata layak. Semenjak adanya
rencana pembongkaran GNI pada medium 2014 lalu, nyaris gedung ini tak pernah
mendapat perhatian dari Pemkab Gresik. Kondisi ini tentu berdampak pada
bangunan dan fasilitas yang ada di GNI, menjadi terbengkalai dan bahkan
mengalami kerusakan. Jika tak ada kebijakan dalam waktu dekat prihal perawatan
GNI dan pemanfaatannya kembali sebagai gedung kesenian, maka gedung yang
dibangun pada awal kemerdekaan ini, lamban laun tak ubahnya seperti pantai
tunawisma
.

Di era postindustrialisasi
ini, melibatkan kebudayaan dalam kerangka pembangunan daerah adalah sebuah
keharusan. Tak bisa dipungkiri, memajukan kebudayaan sebuah daerah tanpa adanya
fasilitas pendukung dalam hal ini gedung kesenian adalah kemustahilan. Gedung
kesenian bukan hanya sebagai ruang ekspresi dan ekshibisi para pelaku seni, tapi
juga sebagai laboratorium seni yang berperan memastikan transfer pengetahuan
antargenerasi pelaku seni terus mengalir.

sukudaya.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *